SAKINAH yang Terusik
Bagaimana warna kehidupan setelah 25
tahun dilalui bersama?
Masihkah seindah pelangi?
Masihkah seindah mahkota bunga yang
bermekaran di taman?
Masihkah sesejuk embun pagi?
Atau bahkan sebaliknya??
MELAYU
“Bang, mau makan apa hari ini?” Tanya
saleha pada suaminya yang tengah asyik melanjutkan petualangan alam bawah
sadarnya selepas subuh.
“kau sajalah yang cari, bukankah aku
sudah bertahun-tahun menafkahimu!?” jawab bang Ruslan dengan posisi tetap
memunggungi saleha.
“apa-apaan abang ini! Itu tugas
laki-laki bang! Menafkahi anak dan istri!” ucapnya sembari pergi dengan menahan
dongkol di hati yang seakan membesar.
Diambillah beras yang sisa semangkok
untuk dimasaknya.
“jangankan untuk sekolah anak, makan
saja abang tak memberiku uang sepeserpun! Anak-anak sudah besar, mau jadi apa
jika tak sekolah! Ya jadi pengangguran kaya’ abang!” emosinya
meledak-ledak jika sudah membicarakan tentang hidup.
“setidaknya abang bangun malam, minta
sama Alloh agar kita dak hidup melarat, bang ! bukan malah tiduur terus!”
lanjutnya.
Ah, boleh jadi panas telinga bang ruslan
mendengar omelan istrinya yang berkepanjangan. Ya, sepanjang memasak, selama
itulah ia mengomel. Yang menjadi sarapan pagi bagi bang ruslan. Seakan-akan ia
tak pernah menafkahi saleha, padahal kala masih muda, ia sangat Berjaya.
Bekerja di kontraktor besar di kabupaten, walau hanya sebagai kuli. Karena usia
yang tidak lagi muda, iapun terpaksa diberhentikan kerja.
“apa gunanya kau berdoa, bangun
semalaman sementara sikapmu begitu padaku?”
“setidaknya itu lebih baik bang, dari
pada tidur semalaman! Bangun-bangun cuma makan, nonton TV!”
“Ya kau sajalah yang tahajjud!....”
Belum selesai bang ruslan bicara,
dipotongnya oleh saleha “ooo…. Jadi abang yang tidur, gitu?”
Bang Ruslan diam, saleha pun mulai
menitikkan air mata sambil tetap menjaga api tungku masaknya. Selama ini
anaknya selalu mengeluh pada saleha. Dua anak yang mulai beranjak dewasa. Amir
yang sudah kelas 3 SMA memerlukan banyak biaya untuk kelulusannya. Sementara
azizah masuk ke pesantren. Biaya makan, sekolah, dan asrama selalu ia pikirkan sendiri setelah
suaminya tak bekerja lagi. Semuanya sekan menggerogoti kepala saleha. Ia tak
berhenti memikirkan anak-anaknya, dengan suami yang …… ah, rasanya, bila tubuh
ini buatan manusia, mungkin sudah aus, meledak dan….. “astaghfirullah!!”
katanya.
#
to be continue.........................
#to be Continue........
ReplyDelete