GANK

     GANK


1
          Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan kuburan karet yang terkenal itu. Sebuah gang sempit  yang tak berarti, sehingga kau tidak akan menjumpai dalam krtu pos bergambar untuk promosi pariwisata, seperti Taman Mini, Monas, Dunia Fantasi Ancol, Hotel Indonesia dan lain sebagainya. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya, di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan.

Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k, sehingga menjadi Gank. Tak tahu siapa yang mengubahnya.tapi semua orang seperti sudah maklum, dapat menduganya, siapa lagi kalau bukan salah satu diantara kami.
          Belakangan ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Namun, apa pun namaya, semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. Kadang-kadang, untuk cepat dan mudahnya, oleh tukang, becak terutama, disingkat saja menjadi Gang Jalil.
          Apalah arti sebuah nama.

2
          Di Gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. Di sana, di jalanan yang sempit itu, anak-anak bermain gundu, main bola kaki, berkejaran, main layangan, main petak-umpet, main galasin. Sementara gadis-gadis kecilnya duduk bersila main masak-masakan, main congklak, atau melompat-lompat main engklek. Dan apabila ada mobil lewat, yang terpaksa merayap bagai keong, anak-anak menyibak ke tepi. Kemudian mengumul kembali memenuhi jalanan, setelah mobil berlalu. Seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut.

3
PENGHUNI gang itu terdiri dari beberapa suku, yang bercampur-baur mrnjadi satu dengan penduduk asli Betawi, sehingga kami tak merasa lagi



perbedaannya. Kami telah lebur jadi satu: Penghuni Gang Haji Abdul Jalil.

4
RATA-RATA, semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain.

5
SEBAGAI gambaran kemiskinan, rumah-rumah kamipun sederhana, berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya.
          Ada satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman, membuat kehadirannya bagai putri raja di tengah rakyat gembel, yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung, bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?”
“Itu rumah pegawai pajak.” Begitu kami selalu menjelaskan.
“Pantas!” jawab mereka. Dan tanya lagi “dan di sebelahnya?”
“Rumah pegawai Bea Cukai.”
“Lebih pantas lagi,” kata mereka. Dan tanya lagi, “yang di seberangnya?”
“Itu mah, pegawai negeri biasa saja.”
“Kok sama hebatnya?”
“Maklum, pejabat bagian basah.”
“Bagian apa?”
“Tau, dengar-dengar bagain pembelian dan perizinan. Tak tahulah. Kok ngurus halo rang lain, sih?

6
          DI sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu, tukang kayu, montir, kenek, pedagang kaki lima, penjual nasi Padang dan Tegal, tukang cukur, guru sekolah, dosen, pelayan took, sopir, makelar, satpam, tukang listrik, pegawai negeri dan swasta, bidan, perawat dan lain sebagainya.

7
JIKA lagi kehabisan, ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya mesin jahit. Dan andai kata ada pompa air yang rusak, atau listrik yang korsleting, tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan.

8
SESEKALI, ibu-ibu kami terlibat dalam pertengkaran kecil.  Biasanya soal anak-anak yang berantem. Anehnya, sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut, anak-anak mereka sudah berbaikan kembali.

9
KURASA gang kami tak pernah sepi. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel.  Teriakan anak-anak bermain, teriakan penjaja sayuran dan makanan. Dan lepas tengah hari, di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta, terdengar suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah:
“Aanakum, Ainakum, Iinakum, Uunakum, Baanakum, Bainakum, Biinakum, Baunakum, Buunakum, Taanakum, Tainakum, Tiinakum, Taunakum, Tuunakum, Tsaanakum, Tsainakum, Tsiinakum, Tsaunakum, Tsuunakum…....”
Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas, mengasyikkan, mengantar kantuk, melayang jauh diantar angin siang.

10
APA saja yang dimasak tetangga, tak bisa dirahasiakan. Aromanya akan mengambang ke mana-mana, ke sepanjang gang. Yang paling cepat ketahuan, kalau ibumu menggoreng ikan asin. Yang ini sungguh menitikkan air liur.

11
          LEPAS Isya’ dan makan malam, boleh dikata selalu ada permainan domino, lebih terkenal: gaple, di lura pekarangan rumah. Pada malam minggu, bias-bisa berlangsung hingga bedug subuh. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. Atau juga, begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. Tak tahulah.

12
          BERBEDA sedikit dengan hari-hari biasa, sekali sebulan pada petang Jumat, orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid, kami yang mud-muda, sebagai basa-basi, ikut hadir. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka.
          Di tengah pengajian sedang berlangsung, ayah-ayah kami pada mengantuk. Heran, kalau main gaple semalam suntuk, mata itu bisa melotot terus sampai pagi, ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. Menurut Ustad Malik, setengah melucu, setengah menyindir: “mata yang mengantuk kalau mendengarkan pengajian, tanda setan mengencinginya!”
          Tiba-tiba, semua membuka mata lebar-lebar, sedikit kaget dan lentas tertawa. Menertawakan siapa?

13
          JIKA yang tua-tua senang gaple, kami yang muda-mudapun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul, menyanyi dan amin gitar, persis pengamen jalanan. Tempatnya: gardu jaga siskamling. Kami menyebutnya ‘markas’.
          Semua lagu kami senang, mulai dari dangdut, pop sampai keroncong. Tapi yang menndapat tempat di hati kami, agaknya dangdut dan pop itulah.  Sekali-kali ada juga yang mencoba seriosa, atau berlagak memainkan music jazz dengan gitarnya, tapi tak kena: sunbang, dan yang lain segera menyorakinya. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus.

14
SEKALI-SEKALI, anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami, tak sampai larut. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. Atau disusul adiknya disuruh pulang.

15
BAGIKU, semua anak-anak gang haji abdul jalil adalah teman, tapi rasanya lebih intim dengan hamzah, martin, najib, toni handoko, dan beberapa anak tertentu.
Usia kami tak jauh beda, hampir sebaya. Dulu ketika masih kecil, kami sering berantem. Sekarang tidak, kami saling menjaga, saling menenggang. Dan kalau bisa ingin selalu berbuat baik kepada yang lain.


16
          HAMZAH, gitaris andalan kami, sejak jadi mahasiswa sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. Agaknya dangdut seperti dilupakannya. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu bart melulu. “Inggris, ni yee?!” ejek anak-anak.
“Maklum, deh.” Tambah yang lain.
Tapi hamzah tidak marah. Tak acuh.
Dan sekarang, bacaannya bukan komik lagi, bukan cerita silat lagi. Pokoknya, berat, dehh! Bayangin kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya, kalian tahu, dia sedang baca apa?
Goerge Bernand Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot!
Pokoknya: berat!

17
          KALAU si Martin lain lagi. Sejak jadi pemain teater, gayanya overacting. Selangit. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. Di situlah ia bercokol.
          Gaya bicaranya, gerak tangnnya, jaalannya, cara tersenyum, ekspresi wajah dan lain sebagainya, kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. Gayanya mirip Rendra, maunya.
          Kalau ia bicara, seakan ia jauh dari kita, nada suaranya agak dilantunkan bagai orang berdiri di atas panggung. Agaknya, ia tak bias lagi mengecilkan suaranya. Kami tak tahu pasti, apakah ia masih bias berbisik.
          Anak-anak hampir tak bisa menahan tawa.
Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? waktunya dihabiskan di TIM, disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Kadang-kadang ikut mentas di kota lain.

18
KUKIRA, si Najiblah yang membuat kami semua heran. Itu, Najib anak ustadz Malik, guru ngaji di gang kami. Soalnya setelah gagal sipenmaru. Benar-benar ia putus sekolah. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swata, ia tahu sendiri, tak mungkin, biaya terlalu tinggi, di luar jangkauan.
Apalah yang diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. Maka dengan sengaja ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. Masuk kantor keluar kantor. Akan hasil perburuan itu, bagaikan buku yang tak habis dibaca kita sudah tahu jalan ceritanya, tentu kau sudah dapat menebak. Tapi Allah maha pemurah, pengasih dan penyayang. Akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya, kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. Pokoknya, kerja. Apakah ia suka atau tidak.
Nah, bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib, menguji keimanannya. Agaknya ia kalah. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub, rumah minum. Artinya, setelah Najib ditest, kemudian detraining untuk jadi Bartender. Najib mulai bekerja di sana.
Sejak itu kami kehilangan teman kongkow. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. Siang hari ia tidur, seperti musang.
Ayahnya, ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. Yang ia tahu, sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya, Najib bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan. “jangan lupa shalat,” pesan ayahnya.
Jelas Najib berbohong. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Bekerja di bar itu dosa. Dan bahkan kini aia sudah tak shalat lagi. Lingkungannay tak memungkinkan, dan di mana ia mau shalat, dan tak ada tempo, dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya.
Sebenarnya Najib sangat terhimpit. Tapi dilakoninya terus. Sampai kapan?
Dan kami, dan orang di gang, merasa berkewajibab menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya.

19
          SEBALIKNYA, siapa sangka, jika Allah berkehendak member hidayah kepada hambanya, Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu, anak pegawai pajk yang gedongan itu, bersikeras pada papanya untuk masuk pesantren. Ketika hal itu disampaikan, bukan main kagetnya sang papa, bagaikan disambar petir di siang bolong. Kaget, heran, berang, bingung, tak alang kepalang.
          Teriak papanya: “ Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” suaranya menggelegar sepanjang gang. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan, bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. Atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. Papanay sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. Papanya menganggap keputusan Tony benar-benar gila.
          Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberongdong habis-habisan, Tony bungkam, merunduk terus, tak membantah sepatahpun, sampai papanya reda dan terhenyak di kursi.
          Beberapa hari kemudian, kami, Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur, ke pesantern Bangil. Tony memintaku. Ia memerlukan teman dalm perjalanannya. Bahkan ia memintaku untuk menemaninya seminggu di pesantren. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai, pimpinan pesatren itu.

20
          SEHARI setelah keberangkatan Tony, papanya sakit. Begitulah Surat Kilat Khusus yang kami terima, pada hari ketiga, dari ibu Tony. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. Tapi Tony tak mau. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya, kepadaku ia berkata: “ Nanti sebentar papa akan sembuh juga. Papa memang selalu begitu. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut.”
          Aku mencoba meluankkan hatinya, “Toh tidak apa buat pulang buat sebentar, bukan?”
          “Tidak sekarang,” jawabnya pasti. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. Coba, Ma. Saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat penagjian yang sesat?... dalam batin, saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa pikirkan hanya duit melulu… seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi, martabat, kesenangan… tapi miskin rohani. Dunia, dunia dan kesenangan melulu… apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu, hanya mencari kesenangan dunia… tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!”
          Tony menarik nafas panjang, Nampak kesal. Dan katanya: “coba pikir, masak papa tega menuduh saya subversive. Ikut pengajain gelap, pengajian subversive, pengajian yang disusupi paham komunis. Jelas itu fitnah!... Ya, Allah. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib, agar semua kami ditangkap, guru kami ditangkap! La hawla wala quwwata illa billah.
          Kini kulihat air matanya menggenang, hamper menangis.
          Lanjutnya: “ kalau tidaklah karena takut dosa, menjadi anak durhaka, hamper saya tidak memaafkan papa. Saya hanya bias berdoa, semoga Allah member papa taufiq dan hidayah. Sya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia.

21
SEBENARNYA, yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Ada lagi. Kau lihatlah si Aisah, teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu), teman kami juga. Nah, Aisah yang satu ini sekarang pakai jilbab (itu istilah yang negpop sekarang, tak lain tak bukan, itu kata lain dari kerudung). Dan kesan pertama kita melihatnya, persis seperti kaum wanita pasidaran Iran, anak buah fanatic Imam Khomaeni, sebagaimana yang kita lhat di majalah-majalah atawa koran-koran. Belakangan ada yang menyebutnya pakaian Ikhwanul Muslimin Mesir, pimpinan imam Hassan Al-Banna. Tapi, apapun namanya, menurut ustadz Malik, “itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya.”
Pakaian yang menutup aurat. Sesuai apa yang termaktub dalam Al-Quran, surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai, Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak perempuanmu, istri-istri orang mu’min. hendaklah mereka mengulur kain kerudung/jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih dikenal, agar mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang.” Dan hadis Rasulullah Saw, dapat saya kutipakn sebuah hadis inidiriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r.a. : suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya), maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma, wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terliha kecuali ini dan ini,” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya.
Sebenarnya, masih ada beberapa ayat dan hadis, tapi saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran, misalnya An Nur ayat 31, Al A’raaf ayat 26 dan beberapa hadis yang diriwayatkan aleh Muslim dan Ahmad.
Pokoknya, sejak Aisah menjadi ekstrim, maaf, ekstrim itu, di mana saja, kapan saja, ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng, menjulukinya dengan “pakaian ninja”. Tapia Aisah tak acuh saja.
Dan sejak itu, kayaknya Aisah tak punya barang sepotong pun baju model lain. Kayaknya, semua pakaian rok, blus yang dulu, baik yang maxi, midi, apalagi mini, sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami).
“Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan, barangkali, Aisah?” suatu kali akau coba menduga kepadanya.
Aisah melanjutkan: “Itu tuh, kalau mau ditertibkan juga, tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. Yang terlibat narkotika itu, yang mabuk-mabukan itu, yang meroko itu, yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang!
“ Itu namanya, sama saja kita membagi dosa kepada yang lain.” jawabnya. “Menyuruh orang lain membuka aurat, ia berdosa dan aku pun berdosa. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah, dan dosa yang dilakukan orang itu.”
“Kau ini aneh, Aisah.” kataku pula. ”Dulu sebelum begini malah kau seorang modis, perancang busana… sekarang siapa yang mau mejahitkan pakaian padamu jika hanya jilbab melulu?”
“Lupakanlah itu,” katanya. “Itu waktu saya masih jahiliyah. Semoga Allah menagmpunka ketidaktahuanku. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah, siapa yang mau saja. Rezeki di tangan Allah.”
Mantap sekali ia, fikirku.
Aisah boleh bermantap-mantap. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. Gara-gara pakaian jilbab itulah, Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). Oleh kepala sekolah, walau waranya sudah putih di ats dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). Namun ia tetap dianggap melanggar. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu, baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu!
Kepala sekolah sudah member peringatan beberapa kali, lisan dan tulisan, dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. Yang kutahu Aisah tetap tegar. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang.
“Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh, hal itu dijamin olaeh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2, bahwa Negara menjamin kemerdekaaan dan kebebasan setiap warga negar untuk memeluk suatu agama atau kepercayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah, mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau peraturan seragam sekolah?!”
“Jelas UUD 45, dong.” Jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. Dan bertepuk tangan serempak.
 Aisah melanjutkan: “Itu tuh,kalau mau ditertibkan juga, tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. Yang terlibat narkotika itu, yang mabuk-mabukan itu, yang meroko itu, yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita lagi, ini gak ge-er, ya (senyum, aduh manisnya) ……”
Lagi-lagi kami keplok, senang sekali. Tiba-tiba seseorang memberi komando “Tepuk pra-mu-ka!” plok plok plok… plok plok plok… plok plok plok… plok plok plok plok. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak pramuka.
Rupanya Aisah belum selesai, belum merasa puas, katanya sambil berbisik, mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI, ‘kali. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?”
“Ya, ‘kali” celetuk kami, membenarkan.
Mengembangkan kedua tangannya, mengangkat bahu Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan, tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya, pengamalannya kita jengal. Kita curiga dengan berbagai prasangka. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?”
“Munafiiiiik….!” Teriak anak-anak serempak.
“PKIiiiiiii…..!” tambah kami lagi.

22
          DI mana pun, dasar anak-anak, suka bercanda, suka menggoda. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’, tak pernah luput ia jadi godaan. Begitu ia lewat, anak-anak yang tadinya asyi-asyik menyanyi dangdut atau pop, segera mengalihkan iramanya ke kasidahan:
          “Indung-indung kepala lindung
          Hujan di udik di sini mendung
          Anak siapa pakai kerudung
          Mata melirik kaki kesandung…”
          Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. Mungkin, dalam hati masing-masing kami, berkata: “Alangkah manisnya anak ini…?”

23
          SUATU kali aku sedang asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah took di Benhil, kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan, mengitarinya seakan hendak memangsa, persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang.
          “Waduh, alimnya.”
          “Sorangan wae?”
          “Mari gue anterin, yuk?”
          “ntar lu digampar bokapnya!”
“Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca’em.”
Dan macam-macam lagi.
Namun Aisah diam saja. Jalan terus.
“Wah, kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain. Belagak memarahi teman-temannya.. “ucapin salam dulu, dong.”
“o ya lupa, assalamu’alaikum neng?”
Dengan lembut Aisah menjawab, “wa’alaikum salam.”
Anak-anak pada sorak kegirangan.
Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi, buru-buru aku keluar, kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. Aku sudah siap dengan segala kemungkinan. Aku berhasil, mereka menyingkir secara teratur. Sekilas kudengar.
“ada cowoknya, Mek!”
Lalu kutarik Aisah ke took kaset.
“kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku.
“tidak”
“anak-anak brengsek!”
“mereka cuma iseng.”
“kurang ajar,” kataku, geram. “tapi, ya ampun, kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?”
“kasih hati bagaimana?”
“salam mereka kau jawab. Cuekin aja!”
“dosa lho, salam tak dijawab. Bukankah salam itu doa, yang artinya selamat dan sejahteralah anda. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula.”
“ya ampun…..,” kataku, tak habis fikir dengan Aisah yang satu ini.

24
          LAIN Aisah, lain pula Maryam. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan, masih suka main congklak dengan teman sebayanya, main engklek, main loncat karet, tiba-tiba seperti disunglap, dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya.
          Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. Sejak itu ia dikenal secara luas. Semua orang kagum padanya. Bukan pada nyanyian. Melainkan pada kecantikannya yang membius itu.

Maka sejak itu, kami tak merasa heran, kalau berganti-ganti saja pemuda- pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. Di lain waktu, ada lagi yang mengajaknya menonton, ke restoran, dan macam-macam acara lain. Dan selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota, pemain film yang sedang in, anak teater yang lagi ngepop, pemain tenis yang lagi ngetop… dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. Pokoknya selalu dengan cowok yang baru!
Dan setiap kali Maryam dan pandangannya lewat di depan ‘markas’, maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan:
“baru lagi, ni yeee?!”

25
MARYAM memang cantik. Yang tercantik di gang kami. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini, demikian menurut Hamzah.
          Kukira, Hamzah menaruh hati pada Maryam. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang.
          “tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertaic dengan ‘kematangan dan kedalaman’.” Kata Hamzah pula, berfilsafat. Kali ini yampak serius dengan muka murung.
          Dari bacaan berat man pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu, aku tak tahu.

26
          SUATU hari, berani-berani takut, kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam.
“tidak!” jawabnya tegas
Aku terperangah.

27
          TAPI akhirnya aku tahu juga, mungkin anak-anak lain tidak, ketika Maryam menyebar undangan perkawinannya dengan anak pengusaha real estate yang berBaby Benz itu, Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah.
          Dalam puisi-puisidan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke manapun ia pergi, seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang, yang tak mungkin dapat diraih kembali.

28
          Dari bisik-bisik anak-anak cewek yang kutangkapbahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Ia tak hendak dan tak berani menyatakan kepada ayah dan ibunya. Maryam seorang anak yang baik, seorang anak yang patuh. Dan terlebih dari semua itu, ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Untuk itu ia siap berkorban. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah, membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan.

29
AKHIR-AKHIR ini, aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah, yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen, tempat di mana ia melarikan kepedihannya.
          Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Nun jauh di desa Bangil, terpencil, jauh dari keramaian kota.
          Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya, sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. Batinnya tertekan. Namun, ia tak bias berbuat lain.
          Sedang mengapa Martin sekarang? Lakon apa yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Aku tak tahu sedang mentas di mana ia sekarang.
          Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sndiri-sendiri.

30
          SUATU hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: ”Syamsu, apakah kau tak merasa malu, nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada kerja! Contohlaah mereka itu! Lagi pula, ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan.”

31
          MALAM hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum kudapatkan, aku selalu lewat di depan ‘markas’. Ramainya masih seperti biasa. Tapi sudah temtu tak kulihat lagi di sana si Najib,  Tony Handoko, Martin dan Hamzah. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi, tertekan sedikit oleh perasaan rindu.***

(dimuat dalam Horison, Agustus 1990)

Syahril Latif, lahir 3 Juni 1940 di Silungkang, Sumatera Barat, meninggal di Jakarta, 7 pebruari 1998. Menyelsaikan studi di fakutas Ekonomi UGM, kemudian belajar lagi di Jepang. Sejak 1967 bekerja di departemen perhubungan RI, Jakarta.

          Karyanya berupa cerpen, novel, puisi dan cerita anak-anak. Beberapa karyanya antara lain pengembara sunyi(1973), tiga puluh sajak (1973), suatu episode(1979), dan ziarah(1981). Di samping itu, novelnya intermizo sempat dimuat secara bersambung di sebuah Koran. Dia menulis pula novel remaja: deburan ombak (1985).

Comments

Popular posts from this blog

Kim TaKu(karya imajinasi sastraku)

Liqo'u abina